Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. (QS. An-Nahl, 16:68)
Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.
Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah. Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui “ilham” dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas.
Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur'an:
Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 69)
Tahukah anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini?
Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.
Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.

Pernah dimalam itu Al-Quran diturunkan dari Luh Mahfuz ke langit dunia, Baitul Izzah. Ramadan 1430H/2009M semakin berakhir. Mukmin sejati semakin menggiatkan ibadah mereka khususnya di seluruh 10 malam terakhirnya, yakin pahala di salah satu dari malam-malam tersebut digandakan pahalanya sebanyak ibadah yang sama dikerjakan selama 1000 bulan! Itulah malam Lailatul Qadar. Pada 10 malam tersebut, demi berebut untuk mendapatkannya, Rasulullah saw mengasingkan dirinya dari isteri-isterinya, beriktikaf di dalam Masjid Nabawi, beribadah dan bermunajat kepada Allah swt sambil diikuti oleh para Sahabat ra.
Firman Allah swt bermaksud,
“Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Quran) dalam malam Lailatul Qadr. Tahukah kamu apa itu malam Lailatul Qadr. Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan. Malaikat dan ruh turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka dalam semua urusan. Salam (sejahtera) malam tersebut hingga naik fajar” (Al-Quran).
Diantara ibadah-ibadah yang boleh dilakukan ialah qiamulail, puasa fardhu, berbuka, solat Tarawih, tilawah Al-Quran, berdoa, zikir, istighfar, memuhasabah diri, merancang untuk amalan diri, keluarga dan Dakwah dan sebagainya.
Orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah menantikan kedatangan Ramadhan dengan penuh harapan dan kegembiraan apabila mengigatkan ganjaran pahala yang berlipat kali ganda berbanding bulan-bulan lain. Ada juga segelintir umat islam yang berasa resah kerana tidak dapat lagi menjamu selera seperti bulan-bulan sebelumnya. Bagi sesetengah orang pula,Ramadhan adalah bulan rezeki bagi peniaga makanan di bazar Ramadhan.Bagi yang berpuasa pula adalah satu nikmat ketika menikmati pelbagai juadah berbuka yang lazat.
Apapun persepsi kita terhadap Ramadhan,ia bukanlah bulan yang asing bagi setiap umat Islam dan bulan ini memang ditunggu kedatangannya bagi mereka yang beriman dan bertaqwa.
firman ALLAH : "hai orang-orang yang beriman diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kamu , agar kamu bertaqwa ".
(*albaqarah : 183)

Ramadhan
setiap degup nafasku
setiap denyut nadiku
setiap detik ingatanku
rasa rindu dan kasih ini akan selalu mengiringiku sepanjang waktu
selama mana nafas masih menjadi milikku
YA ALLAH


Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas, hadith yang bermafhum; “Bacalah Al-Quran dan menangislah. Sekiranya tidak dapat menangis, maka buat-buatlah menangis (paksa menangis)."
Menangis yang dimaksudkan di sini ialah tangisan yang tercetus dari penghayatan kerana memahami ayat-ayat Al-Quran. Jika kita benar-benar memahami isi kandungan Kitabullah ini, kita dikhabarkan dengan azab dan ancaman Allah Ta’ala ke atas segenap manusia yang mengingkari akan syar’iat, jiwa-jiwa yang enggan untuk mematuhi suruhan dan larangan Tuhan.
Kita akan sedar betapa lemahnya kita dalam melunaskan janji-janji kita terhadap Allah Azzawajalla. Jika pembaca Al-Quran itu tidak dapat menangis, maka berusahalah sedaya mampu untuk mengalirkan air mata. Demi mengelakkan sebesar-besar musibah ke atas dirinya, iaitu kegagalan untuk menghayati firman Tuhan.
Untuk menampung kesukaran dalam memahami ayat-ayat Allah Ta’ala, amatlah digalakkan bagi kita untuk mengalunkan bacaan Al-Quran dan mentadabbur ayat-ayat tersebut. Jangan sekali-kali lupa untuk merujuk terjemahannya.
Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahawa kesan dari membaca Al-Furqan bakal membentuk dua sifat sahaja, sama ada sifat orang kafir atau orang yang beriman. Karakteristik orang kafir telah dinyatakan di dalam ayat 5, surah Fussilat yang membawa maksud; “Dan mereka berkata, ‘Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepada-Nya, dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, kerana itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami).”
Di dalam ayat ini, ’al-kinnah’ ditafsirkan sebagai kunci yang menghalang seseorang untuk memahami Al-Quran. Contohnya, tidak berusaha untuk memahami dan mengambil iktibar dari ayat-ayat Allah Ta’ala. Manakala ‘waqrun’ didefinisikan sebagai penyumbat yang menghalang telinga dari mendengar Al-Quran dan ‘hijab’ pula suatu yang menghalang pandangan dari memahami intipati Al-Furqan.
Pembaca Al-Quran perlulah cuba sedaya upaya untuk memahami kalam Allah Ta’ala agar tergolong dalam kelompok orang-orang yang beriman. Inilah yang telah dinyatakan di dalam ayat 53, surah Al-Qasas, maksudnya; “Dan apabila (Al-Quran) dibacakan kepada mereka, mereka berkata ‘Kami beriman kepadanya, sesungguhnya (Al-Quran) itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami. Sungguh, sebelumnya kami adalah Muslim.”
Ayat 2, surah Al-Anfaal pula mengkhabarkan bahawa orang yang beriman apabila dibacakan ayat-ayat Al-Quran kepadanya, akan bertambahlah iman mereka. Juga mereka merasa gementar apabila disebut nama Allah Ta’ala!
Menurut Asma’ bin Abu Bakar, para sahabat Rasulullah Solallahu ‘alaihi wassalam apabila mendengar bacaan Al-Quran, bergenanglah air mata serta dan bergetarlah kulit mereka lantaran rasa ketundukan sebagai hamba Tuhan.
Syed Qutb menambah tentang sifat yang paling menyerlah di kalangan para sahabat, iaitu menerima Al-Quran untuk mengamalkannya.
Abu Bakar As- Siddiq dan Umar Al-Khattab, ketika berada di sisi Rasulullah Solallahu ‘alaihi wassalam telah ditanya oleh suatu kabilah yang sedang bertengkar; siapakah yang lebih layak di kalangan kabilah itu untuk menjadi ketua. Lalu Abu Bakar menjawab si fulan, dan Umar pula menjawab si fulan. Lalu kedua-duanya bertekak dengan dengan suara yang keras sehingga turun ayat 2, surah Al-Hujuurat (larangan untuk meninggikan suara di atas suara Nabi dan untuk bersuara keras). Setelah turun ayat tersebut, kedua-dua insan agung itu mengalirkan air mata dan berbicara dengan lemah-lembut apabila berhadapan dengan Nabi.
Ayuh renung sekilas kisah tentang sikap Imam Hassan Al-Banna yang asyik mendampingi Al-Quran. Abdul Rahman As-Saati (ayahnya) menceritakan bahawa di rumahnya hanya Allah Ta’ala yang menjadi saksi bahawa Al-Banna tidak pernah melepaskan mushafnya, membaca Al-Quran dan juga berzikir.
Lazimnya, Al-Banna akan memperdengarkan bacaannya kepada Al-Hafiz dari kalangan mereka. Jika tiada Al-Hafiz di situ kecuali dari kalangan kanak-kanak, dia tetap akan menyemak bacaannya dengan kanak-kanak itu. Sujudnya juga larut dalam keimanan. Apabila Al-Banna tahu bagaimana cara Rasulullah Solallahu ‘alaihi wassalam mengaji, dia akan mengikut cara tersebut. Kadangkala Al-Banna membaca Al-Quran dengan penuh kegentaran, dan adakalanya gembira hingga terbawa-bawa di luar tilawahnya (apabila membaca khabar-khabar gembira yang diwahyukan oleh Allah Ta’ala).
Dikisahkan bahawa seorang anak murid Hassan Al-Basri di Basrah tidak datang ke majlis ilmunya, lalu beliau bertemu dengannya untuk bertanyakan sebabnya. Anak muridnya menjawab; semasa dia sedang membaca Al-Quran, dia terjumpa ayat 11, surah As-Sajjadah. Kerana terlalu takut dengan apa yang diberitakan oleh Allah Ta’ala, sehari suntuk dia menggeletar kerana memikirkan bagaimanakah nasibnya apabila berdepan dengan malaikat maut satu hari kelak.
Dua lagi ayat yang benar-benar menjentik sikap beraninya ialah ayat 100, surah Al-Mu’minun dan ayat 41, surah Al-Qaff. Ayuh kita sama-sama membaca ketiga-tiga ayat ini.
Syurga ialah tempat kenikmatan dan kebahagiaan di akhirat yang dikurniakan kepada hamba-hamba Allah yang beramal soleh. Neraka pula tempat azab keseksaan disediakan untuk mereka yang beramal tholeh (kejahatan).
Untuk melayakkan diri ke syurga, seseorang itu mestilah menempuh banyak ujian seperti melaksanakan suruhan Allah dan rasul serta menjauhi laranganNya. Kesemua ini memerlukan semangat dan kekuatan yang bermula dari keimanan kepada Allah. Sudah tentu untuk mengerjakan solat, puasa, haji dan amal kebajikan lain amat payah kecuali bagi mereka yang beriman. Sebab itulah Nabi mengatakan jalan ke syurga penuh dengan kesusahan.
Bukan mudah untuk masuk ke syurga. Kita kena bermujahadah atau berjuang melawan nafsu untuk melakukan kebaikan. Syaitan dan nafsu memang menyuruh kita berbuat kejahatan dan tidak menggalakkan kita melakukan kebajikan. Jika kita turutkan kehendak syaitan sudah tentu kita tidak mampu melakukan sebarang kebajikan.
Sebaliknya jalan ke neraka amat mudah kerana dikelilingi dengan kehendak syahwat. Semua manusia memang cenderung mengikut kehendak nafsu dan syahwat. Syaitan pula sentiasa mendorong manusia mengikut hawa nafsu. Amat mudah melakukan kejahatan.
Nah, di depan kita terbentang dua jalan. Terpulang kepada kita jalan mana untuk diikuti. Tepuk dada dan tanyakan iman - bukan tanya selera yang memang suka kepada nafsu
Betapa tak susah masuk syurga? Dalam satu keterangan dinyatakan: orang jahil semuanya binasa kecuali yang berilmu. Orang berilmu semuanya binasa kecuali yang beramal. Orang beramal semuanya binasa kecuali yang ikhlas. Untuk mencapai darjah keikhlasan perlu banyak berjuang. Ibarat mendaki bukit yang tinggi, hanya orang yang lasak saja berjaya sampai ke mercu.
Kebahagiaan di dunia belum menjadi pasport untuk ke syurga. Malahan adalah menjadi kesalahan jika kekayaan yang didapati tidak diperolehi dan dibelanjakan secara Islamik.
Semua manusia inginkan hidup senang. Kesenangan di dunia hanya sementara manakala kesenangan akhirat kekal abadi. Orang yang bijak sudah tentu memilih kesenangan yang hakiki bukan yang bersifat sementara. Hanya orang yang cetek akal saja memilih kesenangan dunia dan mengenepikan kesenangan akhirat.
Syaitan selalu membisikkan kepada kita tentang amal kita yang banyak walaupun baru sikit benar. Kita gembira apabila dipuji manusia. Timbul rasa ujub dan riak yang memusnahkan pahala. Kita tak perasan kita sebenarnya berdosa sebaliknya menyangka kita masih beramal soleh. Kita mesti mengawas dari serangan penyakit batin seperti ria, ujub, bongkak, sombong, dengki yang kesemuanya merosakkan amalan. Di sini peranan ilmu tasauf yang perlu kita pelajari dan dalami.
Perlu kita ketahui sebelum kita melakukan sebarang ketaatan, Allah sudah terlebih dulu mendahului dan mengingati kita. Kalau Allah tak gerakkan kita untuk beramal, kita tak akan beramal. Ini maknanya Allah mendahului kita. Jangan sangka kita yang beramal, sebenarnya Allah menggerakkan kita beramal. Jadi soal pahala tak timbul. Sepatutnya kita bersyukur kerana Allah gerakkan kita beramal.
Bagaimana kita mahu mendabik dada tentang amalan kita? Saidina Ali yang sudah dijamin masuk syurga pun mengeluh kerana bimbang kurang amalan sedangkan perjalanan ke syurga amat jauh. Saidina Ali memang terkenal dengan zuhud dan banyaknya melakukan amal ibadat. Bagaimana dengan diri kita? Saidina Ali Menggigil mengenangkan bekalan yang sikit untuk perjalanan ke akhirat yang jauh.
Kesimpulannya kita terpaksa mengharung kesusahan mencari ilmu akhirat serta mengamalkannya. Kesusahan dalam hal akhirat adalah rahmat. Dengan kesusahan ini Allah mengampun dan meninggikan darjat kita. Dunia bukan tempat bersenang-lenang. Kesenangan hanya di akhirat. Seseorang tidak diberi pahala jika tidak bersusah-payah menempuh dugaan dan cabaran.
Ingat sekali lagi pesanan Nabi saw “Jalan ke Syurga dikelilingi dengan kepayahan. Jalan ke Neraka pula dikelilingi dengan nafsu dan syahwat.” Oleh itu, utamakanlah kepayahan kerana itu jalan ke syurga. Jauhilah kesenangan berbentuk nafsu syahwat kerana itu jalan ke neraka.
Wallahu ‘Alam. .

Antara ayat mengenai sains ialah yang berkaitan dengan pengembangan alam. Firman Allah yang bermaksud: “Dan, langit Kami bangunkan dengan kekuasaan Kami. Sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
Ayat ini menceritakan mengenai pengembangan alam. Ini bermaksud langit diluaskan oleh Allah. Allah sudah menyatakan ribuan tahun dahulu, jika ada orang yang menolak al-Quran kerana menyangka dirinya maju dengan sains, sepatutnya tunduk dengan fakta ini. Pada tahun 1929 Edwin Hubble dengan menggunakan alat canggih meneropong ke langit mendapati alam ini sebenarnya mengembang dan membesar malah saintis sekarang ini berupaya mengukur kelajuan pengembangan alam.
Kedua, ayat berhubung teori Big Bang. Hal ini sudah lama disentuh ribuan tahun dulu dalam surah al-Anbia': 30, bermaksud: “Apakah orang kafir tidak melihat bahawa sesungguhnya langit dan bumi pada asalnya bercantum satu kemudian Kami pisahkan (letupkan) antara kedua-duanya.”
Maknanya langit dan bumi asalnya melekat bercantum, Allah pisahkan antara keduanya dengan udara. Teori Big Bang diasaskan oleh formula umum ‘Theory Of Relativity’ oleh Einstein 1915, kemudian disahkan pakar fizik Rusia pada 1922. Pada 1929 teori ini disahkan Edwin Hubble. Cuba bayangkan hakikat yang ditemui pada abad 20 ini telah dijelaskan oleh al-Quran sejak 1400 tahun dulu.
Segala penemuan ini selari penyataan ayat al-Quran yang menunjukkan al-Quran “Kalamullah” kerana ilmu sains belum berkembang pada zaman Nabi Muhammad (s.a.w), tambahan pula tiada sebarang kemudahan yang tidak memungkinkan manusia mengetahui asal-usul alam ini. Benarlah al-Quran bukan ciptaan Muhammad. Jadi tidak hairan sekiranya orang Islam mendahului bangsa lain dari sudut ketamadunan. Ini kerana al-Quran berada di hati mereka, sebagaimana disebut dalam pertemuan lalu al-Quran bukan hanya dibaca tapi juga untuk memakmurkan alam ini. Percikan daripada kehebatan al-Quran inilah terbinanya tamadun di Iraq, Sepanyol, Turki, India , Afrika dan Barat mempelajari daripada Islam seterusnya mengembangkan lagi menurut acuan mereka. Yang tidak seronoknya mereka menimbus serta memadamkan sumbangan Islam dalam dunia sains malah memutar belit fakta sejarah dengan menuduh Islam tidak menyumbang apa-apa.
Justeru, dalam menimba ilmu, remaja jangan lupa melihat sejarah tamadun Islam. Belajar di Barat untuk mencari ilmu bukan satu kesalahan, yang kita bimbang sebelum dapat ilmu sudah jadi Barat, pergaulannya, pakaiannya dan budayanya. Marilah kita maju dengan acuan dan budaya kita sendiri, berpaksikan al-Quran, sunnah.
"Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat."
Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata:
"Jika kamu mahu menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh kamu melakukan maksiat."
Lelaki itu dengan tidak sabar-sabar bertanya.
"Apakah syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?"
Ibrahim bin Adham berkata:
"Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezeki-NYA."
Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata:
"Dari mana aku mahu makan? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah?
"Ya!" tegas Ibrahim bin Adham.
"Kalau kamu sudah memahaminya, masih mampukah memakan rezekinya, sedangkan kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?"
"Yang kedua," kata Ibrahim, "kalau mahu bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya!
Syarat ini membuat lelaki itu terkejut setengah mati.
Ibrahim kembali berkata kepadanya:
"Wahai Abdullah, fikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu melanggar segala larangan-Nya?"
"Ya! Anda benar." kata lelaki itu. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab:
"Kalau kamu masih mahu bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!"
Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata:
"Wahai Ibrahim, ini nasihat macam mana? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?"
"Ya, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan melakukan maksiat?" kata Ibrahim.
Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
Ibrahim melanjutkan:
"Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya, 'Ketepikan kematianku dulu. Aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal soleh"
Kemudian lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersedar dan berkata:
"Wahai Ibrahim , mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permintaanku?"
"Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahawa kamu tidak boleh menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau boleh lari dari kemurkaan Allah?"
"Baiklah, apa syarat yang kelima?"
Ibrahim pun menjawab:
"Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak mengiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya."
Perkataan tersebut membuat lelaki itu insaf. Dia berkata:
"Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya."Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran.
"Mulai saat ini aku ingin bertaubat kepada Allah." katanya sambil teresak-esak.
Kesimpulan: JANGAN MELAKUKAN MAKSIAT.

Ibnu Umar radhiallahu anhumma telah melaporkan bahawa Nabi saw pernah bersabda,”Wahai kaum wanita! Kamu(teristimewanya) bayarlah sedekah dan banyak bertaubat, kerana daku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.”
Salah seorang daripada pendengar berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah kesalahan kami yang kebanyakan daripada kami akan memasuki neraka?”
Nabi saw. menjawab,”Kami paling kerap mempunyai tabiat melaknat(semasa perbualan) dan kamu lebih tidak bersyukur kepada suami kamu. Daku tidak melihat seseorang yang kekurangan dalam ketakwaan dan hikmah seperti kamu tetapi menguasai seorang yang berhikmah.”
(Bukhari, Muslim, Tarjumanus Sunnah) Hazrat Ibnu Mas’ud telah memberitakan bahawa nabi bersabda,”seseorang wanita patut ditutupi kerana apabila dia keluar, syaitan akan memandangnya,”(Tirmizi) Begitu juga, maka perlulah wanita menjaga suara supaya tidak didengari oleh orang luar. Adalah juga penting, lelaki menghindari dari melafazkan puisi di khalayak wanita lain oleh kerana wanita bersifat lembut hatinya dan mudah cenderung kepada pengaruh buruk.
(uswah rasool e akram) Hazrat Hasan Basari ra. memberitahu bahawa dia telah mendengar Rasulullah saw bersabda,”Allah melaknati orang yang memandang kepada seseorang wanita asing dan juga seseorang yang dipandang itu.”
(mishkat) Hazrat Abu Musa ra. Telah meriwayatkan bahawa Rasulullah saw bersabda,”mata yang memandang kepada seseorang lelaki atau wanita asing dengan niat buruk adalah penzinaan dan seseorang wanita yang mewangikan dirinya dan kemudiannya lalu di hadapan khalayak lelaki adalah tiada bezanya.
(tirmizi, abu daud) Hazrat Ibnu Mulaika ra memberitahu bahawa apabila seseorang menyatakan kepada Hazrat Aisyah bahawa seorang wanita sedang memakai sandal(kasut lelaki) maka dia menjawab bahawa Rasulullah melaknati wanita yang bersifat kelakian (abu daud) Adalah sunnah bagi wanita mengucap salam dan selamat antara satu sama lain dan berjabat tangan. Ini patut digalakkan.(tabrani, baihaqi)
Nota: antara sesama wanita sahaja. Ibnu Abi Dunya dan Baihaqi telah memberitakan dari Ash Shabi bahawa nabi bersabda,”laknatlah kepada penyanyi-penyanyi perempuan dan kepada sesiapa yang mereka nyanyikan,”
- AMalkan tasbih, taHmid dan takbir : Inilah petua yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada anaknya Siti Fatimah.
- Berdoa : Mohonlah kepadaNya. Ingatlah, doa itu senjata bagi orang mukmin.
- Sibukan diri dengan sesuatu : Lakukan aktiviti yang boleh melupakan segala kekusutan seperti perbanyakan membaca al-Quran & pelbagai bahan bacaan, terlibat dengan aktiviti usrah, kemasyarakatan dan sebagainya.
- Luahkan perasaan anda : Bermacam cara boleh digunakan untuk meluahkan perasaan. Carilah seseorang yang paling anda percaya (sebaiknya yang ada pertalian darah atau orang yang arif dalam agama), menulis diari atau catatan harian, menulis blog dan sebagainya .
- Senyum : Apabila berada dalam tekanan, cubalah untuk senyum. Senyumlah dihadapan cermin dan lihatlah diri anda yang sedang tersenyum. Ia mampu menenangkan fikiran dan hati.

- wallahualam -

disentuh terguris,
Assalam Mu'alaikum Wbrth!!! Sahabat semua...bacalah. ... Ya Allah... takutnyer... bacelah sampai habis.. skjap jer.. x smp 5 minit..pun!! !YA ALLAH YA RAHMAN YA RAHIM, lindunglilah dan peliharakanlah kami, kedua ibubapa kami, isteri kami, anak-anak kami, kaum keluarga kami & semua orang Islam dari azab seksa api nerakaMu YA ALLAH. Sesungguhnya kami tidak layak untuk menduduki syurgaMu YA ALLAH, namun tidak pula kami sanggup untuk ke nerakaMu YA ALLAH. Ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami dan terimalah segala ibadah dan amalan kami dengan RAHMATMU YA ALLAH......AMIN. .... .: Luasnya Neraka :.Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibrail datang kepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: 'Mengapa aku melihat kau berubah muka?' Jawabnya: 'Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya.' Lalu nabi s.a.w. bersabda: 'Ya Jibrail, jelaskan padaku si fa t Jahannam.' Jawabnya: 'Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung barat tersiksa, nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi dan minumannya air panas campur nanah dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan.' Nabi s.a.w. bertanya: 'Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?' Jawabnya: 'Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.' (nota ke fa haman: iaitu yg lebih bawah lebih panas) Tanya Rasulullah s.a.w.: 'Siapakah penduduk masing-masing pintu?' Jawab Jibrail: 'Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah. Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim, Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar. Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha, Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir.' Kemudian Jibrail diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: 'Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?' Jawabnya: 'Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat.' Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibrail meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sedar kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda: 'Ya Jibrail, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?' Jawabnya: 'Ya, iaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu.' Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab 'Peringatan Bagi Yg Lalai') Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu: 1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat 2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah 3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung 4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah 5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik 6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak 7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum 8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular 9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hastamengandungi lautan racun yang hitam pekat. 10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai 11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat Mudah-mudahan ini dapat menimbulkan keinsa fa n kepada kita semua.....Wallahua' lam. Al-Quran Surah Al- Baqarah Ayat 159 Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterang an dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk. Dari Abdullah bin 'Amr R.A, Rasulullah S.A.W bersabda:' Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat.. SEPULUH ORANG YANG MAYATNYA TIDAK BUSUK DAN TIDAK REPUT DI HARI QIAMAT KELAK!!!Disebutkan di dalam satu riwayat, bahawasanya apabila para makhluk dibangkitkan dari kubur, mereka semuanya berdiri tegak di kubur masing-masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAKBERCAKAP.Bertanya orang kepada Rasulullah saw : 'Bagaimana kita dapat mengenali ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?' Maka jawabnya Rasulullah saw 'Umatku dikenali kerana WAJAH mereka putih disebabkan oleh WUDHU'.' Bila qiamat datang maka malaikat datang ke kubur orang mukmin sambil membersihkan debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD tidak dihilangkan. Maka memanggillah dari zat yang memanggil. Bukanlah debu 'itu dari debu kubur mereka, akan tetapi debu itu ialah debu KEIMANAN' mereka. Oleh itu tinggallah debu itu sehingga mereka melalui titian' Siratul Mustaqim dan memasuki Alam SYURGA, sehingga setiap orang melihat para mukmin itu mengetahui bahawa mereka adalah pelayan Ku dan hamba-hamba Ku. Disebutkan oleh hadith Rasulullah saw bahawa sepuluh orang yang mayatnya TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati :- 1. Para Nabi2 Para Ahli Jihad3. Para Alim Ulama4. Para Syuhada5. Para Pengha fa l Al Quran6. Imam atau Pemimpin yang Adil 7. Tukang Azan8. Wanita yang mati kelahiran/beranak 9. Orang mati dibunuh atau dianiaya10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumaat jika mereka itu dari kalangan orang yang beriman.Didalam satu riwayat yang lain dari Jabir bin Abdullah ra sabda Rasulullah saw: Apabila datang hari QIAMAT dan orang-orang yang berada di dalam kubur dibangkitkan maka Allah swt memberi wahyu kepada Malaikat Ridhwan: ' Wahai Ridhwan, sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba Ku berpuasa ( Ahli Puasa ) dari kubur mereka di dalam keadaan letih dan dahaga. Maka ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng dan buah-buahan SYURGA. ' Maka Malaikat Ridhwan menyeru, wahai sekelian kawan-kawan dan semua anak-anak yang belum baligh, lalu mereka semua datang dengan membawa dulang dari nur dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang penuh dengan buahan dan minuman yang lazat dari syurga dengan sangat banyak melebihi daun-daun kayu di bumi. Jika Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi makanan itu kepada mereka sambil mengucap sebagaimana yang difirman oleh Allah swt di dalam Surah Al-Haqqah bermaksud : 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan AMAL yang telah kamu kerjakan pada HARI yang telah LALU itu.'* Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Islam yang lain. Ilmu yang berman fa at ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati. ' Dan ( ingatlah ) Allah sentiasa mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan.' Surah Al-Baqarah : 237 Untuk renungan dan amalan bersama .
Monday, December 29, 2008
Muslim harus dinamik dan sederhana..

Bismillahhirrahmanirrahim, pujian yang penuh barakah dan mulia bagi Allah S.W.T sebagai permulaan kata. Selawat yang diiringi salam diukirkan buat baginda Saiyyidina Muhammad S.A.W. Allah S.W.T berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 143 "Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu wahai umat islam "umat pertengahan" agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu.."
Seperti biasa, suka saya kongsikan bersama rakan-rakan seperjuangan tak kira dimana saja mereka berada tentang tajuk yang tertera diatas berkenaan jalan pemikiran seorang muslim. Pada mulanya saya ingin meletakkan tajuk "Pelajar Syariah harus dinamik dan sederhana" demi menekankan bahawa tajuk ini khas diulas untuk santapan rakan-rakan saya dalam bidang Syariah yang mulia ini. Namun setelah merenung sebentar adalah lebih baik ianya di tukar kepada "Muslim harus dinamik dan sederhana" kerana ianya lebih terbuka bagi semua saudara muslimin dan muslimat untuk merenung dan berfikir sejenak tentang isu yang bakal dibangkitkan.
Dinamik dan sederhana adalah dua prinsip yang bergabung dalam manhaj umat islam iaitu prinsip Tawassut ataupun pertengahan. Konsep pertengahan inilah yang mengajar kita tentang kesederhanaan dalam semua aspek kehidupan tak kira dalam ibadah ataupun perkara2 biasa yang bukan ibadah. Dalam sebuah riwayat yang menceritakan tentang 3 orang sahabat Nabi S.A.W, yang berjumpa dengan Ummu alMukminin Aisyah R.A dan bertanya padanya tentang amalan-amalan Nabi S.A.W. Setelah diceritakan kepada mereka tentang amalan baginda S.A.W maka mereka seolah-olah menganggap bahawa amalan-amalan tersebut sedikit. 3 orang sahabat tersebut lantas berazam untuk melampau dalam melakukan ibadah seraya berkata salah seorang daripada mereka:"Aku akan bangun beribadah pada malam hari dan tidak akan tidur!", seorang lagi berkata:"Aku akan berpuasa sepanjang masa dan tidak berbuka", dan yang ketiga berkata :" aku tidak akan mengahwini mana-mana perempuan!", maka apabila perkara ini sampai kepada pengetahuan Nabi S.A.W maka baginda yang sentiasa mendidik umatnya berjumpa dengan 3 sahabat tersebut dan bertanya :"Apakah kamu semua yang mengatakan perkara tersebut?", maka jawab mereka "ya wahai Rasulallah", maka Nabi Muhammad S.A.W menerangkan kepada mereka dalam sebuah makna hadith :"sesungguhnya akulah orang yang paling takutkan Allah S.W.T diantara kamu, sesungguhnya aku berpuasa dan berbuka, aku bangun beribadah dan aku juga tidur serta aku mengahwini perempuan!."
Inilah manhaj muslim!! manhaj para pendakwah! manhaj pelajar Syariah! kesederhanaan dalam kehidupan adalah amat penting. Namun apa yang ingin saya tumpukan disini bukanlah kesederhanaan dalam ibadah ataupun dalam perbuatan tetapi dalam pemikiran. Konsep tawassut ini bukan sahaja harus diguna pakai dalam perbuatan kita namun dalam pemikiran dan pendapat juga harus ada kesederhanaan. Sebagai contoh sekiranya ditanya tentang pendapat seorang agamawan tentang penggunaan television ataupun internet. Ada sebahagian golongan yang terus mengharamkan atau menghalang keras penggunaan bahan tersebut kerana katanya ia mengandungi perkara-perkara yang haram. Apakah ini jawapan yang dinamik dan sederhana? tidak! Internet dan television merupakan platform bagi sesuatu informasi ataupun hiburan dalam bentuk data, audio mahupun video. Jadi sekiranya kita faham bahawa ia hanyalah platform bagi sesebuah rancangan mengapa kita harus mengharamkannya secara mutlak? Sebaliknya seorang muslim harus dinamik dan sederhana dalam berfikir untuk menghukum sesuatu perkara. Jadi bukankah lebih baik kita bersederhana dengan melihat apakah yang ditayangkan didalam television atau internet itu, sekiranya hanya terdapat perkara-perkara yang haram ataupun yang sangat boleh mendatangkan haram maka barulah kita mengharamkannya. Adapun sekiranya ianya 50-50 ada yang baik dan ada yang haram maka tutuplah platform yang haram sahaja dan buka serta sebarkan platform yang baik ataupun dalam bahasa internet laman web. Beginilah pada pandangan saya seseorang muslim harus berfikir.
Saya mengambil lagi satu contoh yang boleh kita renungkan. Ada dikalangan golongan yang mendakwa dirinya ahli sufi suka mengambil hadith2 dhai'f sebagai sandaran dan suka mengamalkan mana-mana hadith dho'if yang selari dengan amalan mereka, secara kontradiknya ada pula antara golongan salafi yang menolak sehabis-habisnya mana-mana sahaja hadith dha'if tak kira maknanya mahupun sanadnya. Maka sebuah pihak mengambil mana-mana saja hadith dho'if tanpa mengira riwayatnya untuk diamalkan dengan berleluasa. Manakala sebelah pihak pula membuangnya berhabis-habisan tak kira riwayat mahupun manfaat. Bukankah lebih dinamik dan sederhana sekiranya kita kaji hadith2 dha'if tersebut, sekiranya memang kuat kedha'ifannya maka apa kata kita tolak riwayatnya. Namun sekiranya matan hadith tadi merupakan kata-kata hikmah yang boleh membawa kebaikan apa salahnya kita jadikannya mutiara kata dan mengamalkan apa yang baik pada kata-kata tersebut? Lihat! inilah cara berfikir yang membawa afkar(fikrah-fikrah) yang lebih terbuka. Maka tak perlu bergaduh kerana golongan yang mendakwa diri mereka salafi dan sufi tadi telah menemui titik pertemuannya iaitu mengamalkan apa yang baik daripada hadith2 tadi serta menolak riwayatnya! Selesai masalah dengan mudah.
Begitulah kita dalam setiap tindakan dan pandangan jangan terlalu radikal!! jangan pula terlalu bermudah-mudah "laa ifraat walaa tafriit" itulah manhaj yang diajarkan dalam al-quran dan as-sunnah. Tajuk ini mungkin saya akan bawakan untuk kita bincangkan bersama dalam dewan kuliah kalau ada kesempatan kerana ianya amat penting, ada yang sudah memahami tajuk ini tetapi gagal mengamalkan manhaj pemikiran begini. Memang tidak dapat dinafikan agak sukar untuk kita sentiasa adil dan berada di pertengahan dalam setiap pandangan kita pasti saja ada pengaruh-pengaruh lain yang mempengaruhi kita supaya keluar daripada garisan tawassut ini. Apa-apa hal pun berusahalah dengan membaca seni-seni atau gaya-gaya pemikiran para ulama' terdahulu dan masa kini i'allah kita akan dapat sedikit-sebanyak cara untuk berfikir dengan betul. Allahumma Ameen.~ wsslm.